Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/seameoce/public_html/web/wp-includes/post-template.php on line 293

Mengasah Kemampuan Anak Bersosialisasi dengan Bermain

Meskipun dikategorikan sebagai mahluk sosial, anak masih perlu dibantu untuk bersosialisasi dengan cara pembiasaan sejak usia dini. Salah satunya dengan cara aktif mengajaknya bermain. Permainan bisa membantu anak untuk belajar tentang sosialisasi. Tentu saja prosesnya tidak langsung berjalan mulus, pasti akan ada masalah menghadang. Namun, ini adalah hal yang wajar. Sebuah telur dadar tidak akan tersaji tanpa memecahkan telurnya lebih dulu, bukan?

Bermain adalah salah satu bagian paling penting dari perkembangan manusia. Dengan bermain, anak-anak belajar mengenai diri sendiri, masyarakat dan lingkungannya. Melalui permainan pula, anak anak akan mampu mengembangkan keahlian emosi, kognitif, sosial, dan fisik. Bagaimana dengan kemampuan bersosialisasi? Kemampuan bersosialisasi sangat penting untuk dimiliki siapa pun, karena berhubungan dengan interaksi antar sesama manusia.

Ketika lahir, bayi sudah belajar merespon orang lain walaupun terbatas pada orang tuanya saja. Lalu kemampuannya meningkat ketika sudah bisa merangkak dan memegang barang. Bahkan sebelum bisa berbicara, bayi belajar cepat dari orang tuanya perihal berbicara. Walau terkesan seperti monolog sebab bayi belum bisa merespon penuh, tetapi bayi mendapatkan keuntungan besar ketika dibacakan cerita atau diajak ngobrol oleh orang tua. Pada usia dua tahun, anak akan mulai menikmati bermain dengan teman-teman sebayanya. Pada masa inilah kemudian dimulai periode latihan dan coba-coba untuk memantapkan kemampuan bersosialisasinya.

Memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik tentu amat bermanfaat. Keahlian ini bisa dipelajari lewat permainan. Lalu bagaimana bermain bisa membantu anak untuk bersosialisasi? 

Dalam bermain, anak-anak pada awalnya tidak dibatasi oleh struktur, mereka bebas menjadi apa pun yang mereka mau. Semakin bertambahnya usia, anak-anak mulai memakai aturan dalam permainan, contohnya dalam permainan petak umpet atau benteng-bentengan. Permainan ini membutuhkan strategi dan komunikasi dengan teman sebayanya. Bahkan semakin besar, anak anak mulai memasukan konsep keadilan dan negosiasi dalam permainan. Hal ini bisa membantu anak-anak untuk memiliki fondasi dalam menyelesaikan permasalahan hidup yang nantinya akan semakin rumit.

Permainan yang mengharuskan anak untuk berperan menjadi orang lain, seperti ketika anak-anak memerankan karakter tertentu, mampu pula menumbuhkan rasa empati. Anak-anak berlatih bagaimana rasanya menjadi orang lain yang berbeda. Empati ini sangat penting untuk kehidupan sosial sebab anak anak akan beranjak dewasa dan berinteraksi dengan banyak orang. Tanpa empati, manusia akan sulit untuk bersosialisasi dengan baik.

Namun, yang perlu tetap diperhatikan adalah setiap anak memiliki ciri khas kepribadian masing-masing yang berbeda satu sama lain. Ada anak yang nyaman dengan orang banyak, ada yang lebih suka berinteraksi dengan sedikit orang saja. Orang tua harus memerhatikan hal ini dan menyesuaikan dengan karakter anak-anak dalam mengajari mereka bersosialisasi.

Selanjutnya, bagaimana caranya agar permainan membuat anak lebih mampu bersosialisasi di tengah masyarakat? 

Ada beberapa aturan dasar yang sebaiknya diikuti, seperti menggunakan rutinitas, humor, mengekspresikan rasa sayang serta memberikan kebebasan pada anak. Anak kecil apalagi balita, selain butuh bermain dengan orang tua, mereka juga butuh bermain dengan teman sebaya. Orang tua bisa menjadwalkan acara bermain bersama (playdate) dengan teman mereka. Yang paling mudah adalah dengan saudaranya sendiri atau sepupu. Mereka bisa bermain bersama seperti menyusun lego, menggambar bersama atau hanya sekadar berlari-lari di taman. Tidak perlu takut jika anak menunjukan perilaku yang terlihat sedikit aneh atau cemas, hal ini sangat wajar dalam proses belajar untuk bersosialisasi. Namun, sebaiknya diingat agar tidak membiarkan anak-anak bermain sendiri atau mempercayakan pengasuhan pada anak yang usianya lebih tua. Anak-anak tetaplah anak-anak, mereka belum memiliki kemampuan dan tanggung jawab seperti orang dewasa dalam mengawasi balita.

Untuk anak berusia dua sampai tiga tahun, normal jika anak masih sibuk bermain sendiri dan terkesan egois. Tidak perlu cemas dan memaksakan anak untuk bersikap sesuai keinginan orang tua atau membandingkan dengan perkembangan anak lain. Sebaiknya, berikanlah pujian jika anak berbuat baik. Ini akan menjadi teladan dan contoh yang menarik bagi anak tentang cara bersikap pada orang lain.

Mengapa bermain bersama menjadi penting? 

Dalam proses bermain, cenderung akan timbul konflik. Jangan takut dengan konflik karena akan melatih anak untuk berkompromi atau mengenali aturan-aturan sederhana dalam hidup. Maukah anak bertukar mainan dengan temannya? Bertengkar soal menggunakan mainan? Bermain bersama atau malah tidak mau bermain?

Hal ini adalah bagian yang normal dari dinamika bersosialisasi. Anak akan belajar untuk berargumentasi dengan temannya. Awalnya memang akan terlihat seperti bertengkar, tetapi seiring berjalannya waktu, anak akan belajar bagaimana berkomunikasi dengan lebih baik. Memberikan kesempatan pada anak untuk bermain dengan anak lainnya adalah sarana yang bagus untuk mengajarkan mengenai sosialisasi. Jangan takut pada pengaruh buruk atau karakter anak lain yang jauh berbeda sebab ini akan memperkaya pengalaman anak.

Emosi yang naik-turun pada anak balita adalah hal yang wajar. Walaupun emosinya bisa cukup intens, namun hanya biasanya berlangsung sebentar. Anak mungkin akan berteriak histeris lalu dua menit kemudian menjadi tenang karena kembali asyik bermain. Pada usia ini, anak yang sulit berbagi mainan adalah normal. Sesi bermain dengan anak lain akan menjadi ajang latihan untuk berbagi dan berinteraksi.

Jika hendak memberikan alat permainan, orang tua bisa menggunakan boneka untuk bermain peran. Dengan boneka, orang tua juga bisa mengenalkan nama-nama emosi yang perlu diketahui oleh anak. Orang tua bisa berkata, “Boneka bebek ini bahagia kalau dipeluk,” atau, “Boneka bebek ini sedih kalau sendirian.” 

Ini akan memberikan fondasi bagi anak untuk mengenali emosi sekaligus belajar empati. Penelitian dari Cardiff University menemukan bahwa bermain boneka mengaktifkan bagian otak yang memunculkan empati, bahkan ketika anak bermain sendirian dengan boneka.  Dengan mengajarkan kepada anak soal emosi, anak bisa mengidentifikasi emosi mereka sendiri dan membangun hubungan yang sehat dengan manusia lainnya. 

Apa tanda-tanda yang perlu diperhatikan orang tua ketika memantau anaknya ketika sedang bermain dengan temannya? 

Sesi bermain anak juga bisa dimanfaatkan orang tua untuk memantau tumbuh kembang anak. Secara alamiah, anak akan tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain. Namun, jika anak tampak tidak tertarik untuk berinteraksi dengan orang tua, apalagi teman, orang tua sebaiknya waspada dan berusaha mencari tahu penyebabnya. Apakah pendengaran dan indera lainnya berfungsi dengan baik? Apakah lingkungan bermainnya cukup nyaman? Apakah ia lelah, lapar atau mengantuk?  

Jika mengalami kesulitan, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan dokter atau psikolog anak. Perlu juga diwaspadai jika anak terlalu agresif seperti menendang, menggigit, mendorong atau mudah histeris. Permasalahan serius akan lebih bisa diselesaikan jika dideteksi dan ditangani sedini mungkin.

Apa saja manfaatnya jika kemampuan bersosialisasi anak berkembang dengan baik? 

Berdasarkan penelitian dari International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences, anak akan lebih mudah berteman dan memiliki kesehatan mental yang baik, jika kemampuan sosialisasinya pun berkembang dengan baik. Bagaimana jika kemampuan bersosialisasi anak tidak bagus? Mereka cenderung akan memiliki banyak masalah ketika dewasa nanti, apalagi jika sudah memasuki sekolah, dunia kerja, bahkan ketika mereka dewasa dan memiliki pasangan.  

Berbagi, mengatur batasan personal, dan menyelesaikan permasalahan, semuanya berasal dari proses sosialisasi dan interaksi. Ketika memasuki taman kanak-kanak dan sekolah dasar, anak sudah memiliki cukup fondasi untuk bersosialisasi. Mereka juga akan memahami konsep konsekuensi atas setiap perbuatan yang mereka lakukan. 

Sumber:

Play and social skills

https://childdevelopment.com.au/areas-of-concern/play-and-social-skills/

How to teach toddler emotion

Cooperative play

https://www.healthline.com/health/parenting/types-of-play#6.-Cooperative-play

Milestones socialization

https://www.babycenter.com/baby/baby-development/developmental-milestones-socialization_6576

Social and Emotional Development in Early Childhood

https://www.verywellmind.com/social-and-emotional-development-in-early-childhood-2795106

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *