Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/seameoce/public_html/web/wp-includes/post-template.php on line 293

Menanamkan Kebiasaan Baik Lewat Bermain Bersama Batita

“Wah, ternyata rasa makanan dan minuman itu bermacam-macam, ya! Ternyata aku bisa melakukan banyak hal sendiri meski masih nabrak,  tumpah, dan miring-miring. Lalu, jika aku bilang ‘tidak’, bagaimana respon mereka, ya?” 

Kurang lebih, seperti inilah isi pikiran anak di usia satu hingga tiga tahun. Ia mulai mengetahui ada dunia selain dirinya sambil ia pun masuk ke fase egosentrisnya. Fase egosentris menurut psikolog Jean Piaget adalah ketidakmampuan memahami bahwa orang lain juga memiliki pandangan atau kepentingan lain. Pada anak, fase ini adalah fase ketika anak mulai memilki kemampuan untuk memahami pikirannya, tetapi belum mampu untuk memahami pikiran orang lain. Dirinya menganggap semua orang sama dan harus seperti dia, karena dia belum mampu untuk memahami pikiran orang lain. Fase ini penting dirawat, dan berbeda dengan egois. Menarik, bukan?

Aku Bukan Bayi Lagi

Hal yang cukup berbeda dengan kondisi ketika sang batita masih bayi. Misalnya, tidak seperti bayi yang senang tidur siang dua kali setiap harinya, di usia batita mereka akan lebih kuat menahan kantuk. Ia akan tidur siang sekali saja karena merasa banyak hal menarik untuk dieksplorasi. Tak jarang anak-anak di usia ini sulit tidur. Selain itu, tak jarang anak di usia ini memasuki masa susah makan. Bergerak dan teralihkan perhatian menjadi ciri khas yang begitu kentara. Maka, bermain yang mengerahkan banyak energi di siang hari tentu akan membuat tubuh anak lebih cepat membutuhkan reload lewat makan dan tidur. Anak jadi lebih mudah lapar dan kualitas tidurnya ikut meningkat. 

Aku Suka Berkhayal

Anak usia ini senang berkhayal? Tepat sekali. Cukup dengarkan dan beri apresiasi. Ia sedang mengasah kemampuannya berimajinasi dan berani berpendapat. Tak jarang anak di usia ini sangat senang bermain tenda-tendaan, bermain peran, dan banyak bergerak menirukan segala macam hewan maupun tokoh. Tidak mengapa. Psikolog anak Sally Goddard Blythe, penulis The Genius of Natural Childhood: Secret of Thriving Children, menekankan pentingnya imajinasi di semua bidang perkembangan anak. Lewat berimajinasi, anak ternyata melatih kemampuannya dalam menyelesaikan masalah karena diberi kebebasan untuk berpikir seluas mungkin dengan cara-cara bervariasi. Kelak ini akan bermanfaat di kehidupannya yang akan datang.

Aku Aktif Sekali

Kesukaan anak bergerak di usia ini terkadang membuat banyak orang tua merasa ‘sport jantung’. Bagaimana tidak, mereka memanjat sofa, lemari, bangku dapur, meja makan, dan masuk ke samping kulkas. Bagi mereka, itu seru. Sedangkan dari sudut pandang orang tua, kemampuan menyelamatkan diri sang anak belum terlatih. Namun, dengan membiarkan anak mencoba segala akrobatnya, sambil tetap diawasi, juga memiliki banyak poin positif. Di sini, anak sedang melatih kekuatan motorik dan ketangkasannya. 

Cobalah untuk bermain perosotan, mencoba palang rintang, bermain ke alam, mengejar hewan peliharaan, dan menggendongnya di atas pundak. Selain mendatangkan perasaan senang yang memicu adrenalin, anak juga melatih keseimbangan tubuhnya dan keselarasan dengan lingkungan sekitar. Ini bermanfaat untuk perkembangan kemampuan motoriknya dan untuk kecerdasan spasialnya, yaitu keterampilan dalam hal mengingat, membayangkan, dan memanggil kembali ingatan tentang suatu keadaan. Semakin baik kemampuannya ini kelak akan membawa seorang anak memiliki kepercayaan diri yang baik. 

Tanpa disadari anak mendapat banyak manfaat dari kegiatan yang terlihat hanya main sederhana. Anak mempelajari bahwa pihak lain, baik itu orang  maupun hewan dapat memiliki kondisi, pilihan, dan minat sendiri. Diskusikan hal-hal demikian dengan anak. Tak perlu khawatir jika anak terlihat belum paham, ia akan merekam, apalagi jika informasi tersebut ia dapatkan berulang-ulang. Lama-kelamaan sebuah nilai akan tertanam pada dirinya. Teruslah berbicara. Lewat mendengar orangtuanya bercerita saja, koleksi kosakata anak bertambah sekaligus ia belajar mengutarakan ekspresi yang tepat. Ya, ia belajar berkomunikasi.

Perasaan apa ini?

Di usia ini, anak sudah bisa diperkenalkan terhadap jenis-jenis perasaan. Saat perasaaan berubah-ubah, orang tua dapat membantu menamainya. Merasa sedih kah? Marah? Kaget? Senang? Takut? Dengan terbiasa mengenal jenis-jenis perasaan anak kembali belajar berkomunikasi dengan tepat dan menyenangkan. Tentunya hal ini bisa tercapai jika orang tuanya pun mau berusaha untuk berkomunikasi yang menyenangkan dengan anak. Komunikasi menyenangkan bukan berarti harus berbicara dengan nada cedal atau dibuat seperti bayi. Tetap seperti biasa sambil diberi bumbu ekspresif dan penuh empati. Lewat gaya komunikasi seperti ini anak akan lebih mudah untuk terbuka kepada orang tuanya. Kelekatan anak dan orang tua semakin terjaga. 

Berjuta Keinginan Dengan Kemampuan Terbatas

Di usia satu hingga tiga tahun, atau selanjutnya disebut batita, anak-anak sedang mengalami pertumbuhan pesat dalam dirinya terutama dalam rasa penasarannya yang tinggi. Mereka kerap mencoba ini dan itu, bertanya apakah ini dan apakah itu, serta banyak berkata ‘tidak’ atau mengatakan yang sebaliknya. Disebabkan oleh kemampuan yang masih terbatas sedangkan tekadnya kuat, tak jarang anak-anak di usia ini mengalami frustasi yang keluar dalam bentuk tantrum

Tantrum adalah keadaan ketika seseorang, atau pada umunya anak, meluapkan emosinya dengan cara yang berlebihan. Contoh pada anak seperti; berteriak dan berguling di lantai. Hal ini biasa terjadi karena anak memiliki keterbatasan kosakata dan belum pandai memahami perasaannya.

Hal ini merupakan keniscayaan dan sangat wajar. Tak dapat dihindari, tetapi bisa dikendalikan. Hati-hati dengan jebakan membuat anak tenang dari tantrum secara instan, yaitu membiarkan anak betah seharian terpapar layar. Kurang terpenuhinya kebutuhan gerak dan eksplorasi, serta lelahnya mata menatap layar malah membawa anak kembali tantrum. Saran dari American Academic of Pediatric (AAP) adalah tidak memberikan paparan layar lebih dari satu jam per hari untuk anak usia batita ini. Apa yang bisa orang tua lakukan?

Mari hadapi. Dengan syarat, orang tua sudah mampu menguasai perasaan diri sendiri dulu sebelum membantu anak mencurahkan perasaannya. Orang tua baper, atau yang terlalu memasukkan ke hati saat menghadapi sikap ‘sulit’ sang anak sebaiknya menenangkan diri sendiri terlebih dahulu, karena sungguh tantangannya akan luar biasa. Jangan sampai malah orang tuanya yang tantrum duluan. Setelah berhasil menguasai perasaan sendiri, orang tua bisa berkomunikasi dengan baik, benar, dan menyenangkan kepada anak.

Dengan merutinkan aktivitas-aktivitas di atas, terutama dalam hal diterima perasaannya, anak akan merasa kehadiran dirinya berharga. Ia pun jadi terlatih untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara yang tepat. Jika anak mampu berkomunikasinya semakin baik, ia semakin mantap mengutarakan keinginannya sehingga kondisi tantrumnya akan dapat diminimalisir. Apalagi jika ide dan pendapatnya didengarkan dan mendapat respon cepat. Hal-hal seperti inilah yang turut mengisi penuh tangki cinta anak.

Mencoba ‘3B’ Bersama Batita

Begitulah, menemani dan membimbing anak di usia ini memiliki tantangan tersendiri. Cara paling asyik untuk dapat memahami dunia mereka tentu saja dengan mendekati anak-anak di usia ini lewat bermain sperti yang banyak dipaparkan di atas.

Psikolog Elly Risman pernah menyampaikan bahwa bermain menjadi salah satu cara ampuh dan mudah untuk menanamkan nilai kepada anak usia di bawah tujuh tahun. Lengkapnya adalah 3B, yaitu; Bernyanyi, Bermain, dan Bercerita. Hal ini bisa orang tua coba di rumah dalam keseharian. Untuk bernyanyi, ajak anak membereskan mainan dan pergi ke toilet sambil menyanyikan sebuah lagu terkait aktivitasnya. Jika merasa tidak ada lagu yang diketahui untuk topik tersebut, buat saja. Orang tua bisa bersenandung dengan nada yang dikreasikan sendiri. Untuk bermain, usahakan untuk selalu menemani anak dan selalu mengawasinya. Sedangkan untuk bercerita, luangkan waktu untuk berkisah, mengobrol, mendengarkan ocehan anak, dan membacakan buku. Coba mulai hari ini, yuk!

Referensi:

How Screen Time Affects Kids’ Development (https://www.bizjournals.com/bizwomen/news/latest-news/2019/02/how-screen-time-affects-kids-development.html?)

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *