Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/seameoce/public_html/web/wp-includes/post-template.php on line 293

Usia Prasekolah, Benarkah Saatnya Belajar Calistung dan Bersosialisasi?

‘Usia Prasekolah’, begitu biasanya orang menyebut masa-masa usia balita yang juga disebut dengan ‘anak awal’ ini, yaitu usia dua hingga tujuh tahun. Dikarenakan penamaannya ini, tak sedikit anak-anak disiapkan sungguh-sungguh oleh orang tuanya untuk belajar formal, yaitu menyiapkan diri untuk siap masuk sekolah dasar. Orang tua berlomba mencari tempat bimbingan belajar calistung, yaitu; membaca, menulis, dan berhitung. Alasan lain adalah karena ingin mengajarkan anak bersosialisasi. Akibatnya waktu bermain bebas anak jadi berkurang banyak. Apakah ini langkah yang tepat?

Ada anggapan bahwa semakin anak pandai melakukan sesuatu di bidang akademis sedini mungkin maka perkembangannya pun akan semakin baik. Akibatnya menjamur pula anggapan semakin dini bisa membaca, menulis, dan berhitung akan membawa manfaat besar di kehidupan anak di masa depan.

Studi yang dilakukan oleh banyak ahli malah menunjukkan sebaliknya. Dilansir dari Bored Teachers, diketahui adanya hasil yang kontraproduktif jika anak dipaksa bisa lancar membaca, menulis, dan berhitung di usia ini. Anak malah akan tumbuh dalam rasa bersaing, takut salah, dan gugup berkepanjangan. Anak mungkin jadi bisa membaca, tetapi belum tentu menjadi suka membaca dan memahami konteks bacaan. Belum lagi, pekerjaan membaca, menulis, dan berhitung sebetulnya membutuhkan kemampuan otak bagian korteks (pengatur logika) yang belum berkembang di anak usia ini. Tak ada bukti yang menunjukkan bahwa anak yang lebih dini bisa membaca akan melesat lebih sukses dibandingkan yang belum bisa membaca di usia dini.

Anak usia di bawah tujuh tahun baru sedang mempelajari emosinya. Ia sedang meraba dunia dengan rasa senang dan tidak senang. Tidak mengherankan jika anak suka melompat dari ketinggian, main lumpur, hujan-hujanan, dan membuat rumah berantakan tanpa berpikir akan konsekuensinya. Tentu saja itu karena hal-hal tersebut menyenangkan baginya.

Memaksa anak untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung supaya siap masuk sekolah dasar akan menjadi pilihan yang kurang bijak. Rasa terpaksa akan diasosiasikan anak dengan rasa tidak enak. Saat itu pula binar-binar di mata anak akan meredup. Rasa bahagia saat beresksplorasi menjadi hilang dan menumbuhkan rasa malas. Tak heran jika kemudian konotasi bagi kegiatan belajar pun menjadi membosankan dan menakutkan bagi anak.

Mengenalkan Calistung Dengan Cara yang Menyenangkan

Jadi, apakah anak tak perlu dikenalkan pada membaca, menulis, dan berhitung? Mengenalkan tentu boleh. Perlu diingat, caranyalah yang membedakan. Orang tua bisa mengupayakan agar proses ini berjalan dengan nyaman dan menyenangkan, tidak mencederai perasaan anak, dan tanpa paksaan demi ambisi orang tua semata. Semua sangat bisa dilakukan lewat bermain. Tak perlu waktu bermain sampai dihilangkan demi mengambil kursus-kursus yang malah merenggut masa eksplorasi anak. Aktivitas pengenalan yang kita sebut prabaca, pratulis, dan prahitung sangat bisa dimasukkan dalam permainan di keseharian.

Orang tua bisa mulai mencoba dari membacakan satu buku setiap harinya untuk anak sedini mungkin. Hal ini dilakukan untuk membangun kebiasaan dan menjadi akrab dengan buku. Anak akan terpancing untuk mengetahui cara membaca dan kemudian ingin mencoba menuliskan kata-kata yang ia lihat di buku. Apalagi jika kita mengajak anak untuk menghitung jumlah hewan, jumlah bunga, atau bahkan jumlah huruf A di dalam buku yang sedang dibaca. Anak akan otomatis suka pada kegiatan menghitung yang seru itu. Biarkan saja, karena ia sedang menaruh minatnya. Terus lakukan secara bertahap, lewat permainan.

Tak perlu khawatir pula jika di usia ini rentang konsentrasi anak masih pendek, itu wajar. Secara sederhana, seringkali rentang fokus anak dihitung berdasarkan dua kali usianya. Misalnya, untuk anak usia tiga tahun, maka rentang konsentrasinya minimal enam menit. Untuk anak lima tahun, rentang konsentrasinya ada di sepuluh menit. Tak perlu heran dan kesal jika anak cepat capek dan bosan karena alasan rentang konsentrasi ini. Itu wajar. Jadi, mari bermain dengan banyak variasi supaya rasa senangnya terpelihara.

Di usia ini anak masih menyukai permainan-permainan yang ia lakukan saat batita. Berlari, melompat, berputar, bermain peran, menjelajah alam, dan permainan sensori bisa dilanjutkan.  Hanya saja, kali ini kemampuannnya sudah lebih terlatih. Selain itu ia pun mulai menyadari ada dunia selain dirinya, yaitu keberadaan orang lain. 

Jika fase egosentris anak terlalui dengan baik di tahap usia sebelumnya, maka di usia ini anak-anak biasanya akan bermain dengan kondisi emosi yang lebih tenang. Ia mulai bermain dengan teman sebaya, lebih tua, maupun lebih muda meski di awal-awal masih akan bermain dengan cara soliter. Menurut Mildred Parten dalam menjelaskan tahap bermain pada anak, bermain soliter adalah ketika anak sibuk bermain sendiri, tidak memperhatikan kehadiran anak-anak lainnya. Jadi, anak akan bermain dengan tujuan masing-masing meski berada di tempat yang sama. Jika anak masih di fase ini, tak perlu dipaksa bergabung dengan yang lain.

Bermain Sambil Belajar

Anak juga semakin suka permainan menantang seperti menyusun seperti puzzle, balok, brick (seperti lego), labirin, dan board game yang mulai menerapkan aturan main. Lewat permainan-permainan ini anak terlatih kemampuan berpikir logisnya yang akan bermanfaat sebagai prosesnya mengenal prahitung. Saat bermain dengan anak, terkadang orang tua bisa menyelipkan suasana kompetitif. Balapan menyusun balok, misalnya. Sehingga anak selalu mendapat tantangan baru. Namun, di waktu lain boleh juga memasukan kejadian gagal dan tak keberatan mengulang atau memperbaiki kesalahan, seperti misalnya memasang puzzle yang salah atau brick yang dibiarkan runtuh. Ini bagus untuk melatih jiwa sportif anak bahwa belajar dan bangkit dari kesalahan itu biasa. Apresiasi anak secukupnya, berfokus pada proses, bukan hasil. Cara ini membuat anak menghargai proses dan tidak terjebak dalam kondisi ingin selalu berhasil sempurna.

Ikut Melakukan Pekerjaan Rumah

Mengajak anak untuk ikut terjun membantu pekerjaan rumah juga bisa jadi permainan yang menyenangkan. Menyusun jepitan sesuai warna, mengelompokkan baju untuk disetrika, bermain air sambil mencuci kendaraan, dan bergantian mengganti sprei akan menjadi menarik jika dikerjakan bersama di rumah. Selain orang tua terbantu, anak-anak juga menjadi paham bahwa rumahnya perlu dirawat. Selain itu, tanpa sadar anak mempelajari sains yang berlaku di rumahnya juga kegiatan prahitung. Kenangan indah bersama keluarga juga sudah akan terekam dalam memorinya hingga dewasa nanti. Hal ini baik untuk melekatkan hubungan dalam keluarga dan melatih anak bersosialisasi. Paket lengkap! 

Bermain, meskipun sudah memasuki usia yang katanya ‘prasekolah’ tetap dibutuhkan dan penting di usia ini. Anak-anak yang puas dengan masa bermainnya malah akan lebih siap secara fisik dan mental saat memasuki usia sekolah. Lagipula, manusia adalah homo ludens, makhluk bermain. Hingga dewasa pun bahkan orang tua tetap senang jika berhadapan dengan permainan, apalagi anak-anak.

Bermain adalah salah satu bentuk riset tertinggi, begitu kata Albert Einstein. Jangan remehkan kesukaan anak yang banyak bermain, karena sesungguhnya bermain adalah pekerjaan paling serius bagi anak-anak. Orang tua bisa mulai dengan berhenti mengatakan, “Jangan main melulu, kapan belajarnya?” Karena lewat bermain, sesungguhnya anak-anak mempelajari begitu banyak hal penting untuk pondasi hidupnya. Mari puaskan masa bermain anak-anak!

Referensi:

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *