Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/seameoce/public_html/web/wp-includes/post-template.php on line 293

Menstimulasi Kecerdasan Linguistik Anak Usia Dini

Seperti biasa, menjelang tidur, Dela meminta bundanya mendongeng. Bunda Dela kemudian bertanya pada anak perempuannya itu, “Hari ini, Dela ingin dongeng tentang apa?” Anak kecil itu pun menjawab ingin mendengar dongeng tentang ulat dan bunga mawar. Karena merasa tidak ingat satu kisah pun tentang ulat dan bunga mawar, sang bunda menanyakan apa yang terjadi antara kedua tokoh tersebut.

Dela kemudian bercerita bahwa bunga mawar sangat sombong. Hal itu dikarenakan bunga mawar selalu mendapat pujian dari manusia atas kecantikannya. Ulat selalu diejek oleh bunga mawar dan menjadi sedih. Ulat lalu mengurung diri dalam selimut besar. Singkat cerita, ulat itu kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, sedangkan bunga mawar layu karena manusia lupa menyiramnya. Dari ilustrasi tersebut, secara tidak langsung Dela telah mengambil peran bercerita. Bundanya hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memancing kelanjutan cerita. Sementara Dela merangkai kisah berdasarkan imajinasinya dan tentu saja dibantu dengan pertanyaan bundanya.

Kecerdasan Linguistik

Sahabat Ceccep pernah mengalami kisah semacam itu? Jika ya, maka anak tergolong memiliki kecerdasan linguistik. Howard Gardner menyatakan dalam teori Multiple Inteligences terdapat sembilan macam kecerdasan yang dimiliki manusia. Kecerdasan tersebut yaitu kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalistik, dan kecerdasan eksistensial. [1]

Kecerdasan linguistik mencakup kemampuan dalam mengolah kata, atau kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tertulis. Dengan demikian, orang-orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargumentasi, meyakinkan orang, menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya. Kecerdasan ini juga melibatkan empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, mendengar, menulis dan membaca. [2]

Anak yang memiliki kecerdasan bidang linguistik memiliki minat terhadap bacaan. Anak-anak dengan kecerdasan ini menyukai aktifitas membuka buku, bahkan sebelum mampu membacanya. Dengan demikian, cara terbaik untuk anak-anak yang memiliki kecerdasan ini adalah dengan mengucapkan, mendengarkan, melihat tulisan, dan membaca. 

Kecerdasan linguistik ini juga dianggap memegang peranan penting dalam keterampilan berkomunikasi lho. Kecerdasan ini akan membawa anak-anak pada kemampuan mengungkapkan pikiran, keinginan, dan pendapatnya. Anak-anak dengan kecerdasan linguistik memiliki kemampuan menghargai kata-kata dan mampu menangkap makna dari kalimat yang dibaca atau didengarnya. 

Pada tingkatan lebih lanjut, anak-anak yang kecerdasan linguistiknya distimulasi dengan baik akan mampu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi sesuai dengan yang diinginkannya. Hal itu termasuk penggunaan bahasa untuk retoris (memengaruhi orang lain), mnemonik (menggunakan bahasa untuk mengingat informasi), menjelaskan, dan metabahasa (menggunakan bahasa untuk membahasnya sendiri). [2]

Stimulasi Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan linguistik ini juga perlu distimulasi lho. Stimulasi ini bahkan perlu diberikan pada anak usia dini, khususnya anak usia 4-5 tahun. Pada anak dengan rentang usia ini, umumnya telah memiliki banyak kosakata, mampu mengembangkan keterampilan bicara melalui dengan baik menggunakan kalimat atau percakapan sederhana, mampu mengungkapkan keinginannya serta memberikan sejumlah informasi dan menggunakan berbagai bentuk pertanyaan sederhana. [1]

Di sisi lain, anak-anak berada dalam fase menyukai permainan. Sebagaimana yang kita ketahui, fungsi bermain dan berinteraksi memiliki peranan penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak. Tak hanya itu, anak-anak dapat mengembangkan sikap disiplin, moral, kreativitas, perkembangan fisik, dan termasuk juga mengembangkan kemampuan berbahasanya. [3]

Hmmm, ternyata kegiatan bermain bisa menstimulasi kecerdasan linguistik, ya. Kalau begitu, aktivitas bermain itu perlu dikaitkan dengan kegiatan membaca, dong, supaya kecerdasan linguistik buah hati kita dapat berkembang. 

Nah, ternyata kita bisa menerapkan beberapa teknik membacakan cerita berikut: 

1), membacakan cerita langsung dari buku cerita

2) bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar dari buku

3) menceritakan dongeng

4) bercerita dengan menggunakan papan beralas flanel

5) bercerita dengan menggunakan media boneka

6) dramatisasi suatu cerita

7) bercerita sambil memainkan jari-jari tangan. [3]

Oh iya, manfaat bercerita ternyata cukup banyak. Pertama, kita dapat mengembangkan kemampuan berbicara dan memperkaya kosakata anak. Kedua, melalui bercerita kita mengenalkan beberapa bentuk emosi dan ekspresi kepada anak seperti marah, sedih, gembira, kesal dan lucu. Ketiga, kegiatan bercerita ini dapat menstimulasi daya imajinasi dan kreativitas anak, memperkuat daya ingat serta membuka cakrawala pemikiran anak. Keempat, bercerita juga dapat menumbuhkan empati dalam diri anak. Kelima, kegiatan ini menjadi langkah awal menumbuhkan minat baca anak. Keenam, bercerita merupakan cara paling baik untuk mendidik tanpa kekerasan, menanamkan nilai moral dan etika juga kebenaran, serta melatih kedisiplinan. Ketujuh, melalui bercerita, hubungan personal dan ikatan batin orang tua (termasuk guru) dengan anak dapat terjalin dan ditingkatkan. [3]

Seorang ahli bernama Weaver membuat pernyataan read is the process of bringing meaning to a text in order to get meaning from it. Artinya, belajar membaca merupakan sebuah proses seorang anak membaca rangkaian tulisan (dalam hal ini huruf, kata, dan kalimat) dalam rangka mendapatkan makna dari tulisan tersebut. Oleh sebab itu, setelah kegiatan membaca ajak anak untuk berdiskusi ya. Dengan mendiskusikan hasil membacanya, anak akan semakin terlatih menyampaikan pendapatnya. Dengan demikian, kecerdasan linguistiknya akan semakin ditingkatkan.

Kita juga bisa menstimulasi kecerdasan linguistik dengan menciptakan ruang bermain yang dilengkapi dengan tulisan dalam berbagai ukuran. Anak-anak distimulasi juga dengan poster-poster bergambar yang ditempel di dinding. Diharapkan dengan demikian anak dapat belajar membaca melalui lingkungan bermainnya.

Permainan untuk Menstimulasi Kecerdasan Linguistik

Tak hanya dengan menciptakan ruang bermain yang demikian, kita dapat menggunakan permainan kartu kata bergambar. Permainan ini didasari oleh metode membaca permulaan global yang dikemukakan Decroly, yang mengajarkan anak untuk mengenal makna yang terkandung dalam sebuah bacaan (gambar). 

Metode global yaitu mengajak anak untuk menguasai kata dan kalimat. Anak diajarkan membaca dari satuan yang lebih besar ke satuan yang lebih kecil, misalnya dari kata ke suku kata, suku kata ke huruf. Hal ini sesuai dengan metode yang digunakan Montessori dalam mengajarkan anak membaca anak melalui metode sintesa yaitu mengajarkan anak mengenal huruf terlebih dahulu, kemudian mengenal suku kata lalu mengenal kata. [4] Kita dapat mulainya dengan pertanyaan terkait hal yang disukai oleh anak, misalnya main. Kita bisa mengatakan pada anak bahwa kata main dimulai dengan huruf m dan menunjukkan huruf tersebut sebagai bahan identifikasi visual. 

Selain itu, kita bisa menggunakan wayang yang dibuat bersama anak.  Kita bisa mengajak anak mencari gambar, baik dari internet maupun dari koran/ majalah bekas. Gambar tersebut kemudian ditempel pada kertas yang tebal dan dipotong sesuai dengan bentuknya. Tambahkan lidi atau tusuk sate di belakang gambar sehingga gambar tersebut menyerupai wayang. Jangan lupa, ajak anak menceritakan sesuatu dari tokoh wayang yang sudah dibuat itu. 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan linguistik adalah salah satu dari sembilan kecerdasan yang dimiliki manusia. Kecerdasan ini terkait dengan empat keterampilan bahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan berbicara. Kecerdasan ini dapat distimulasi salah satunya dengan bercerita. Kegiatan bercerita dapat dilakukan dengan membacakan buku, mengajak anak untuk menceritakan sesuatu, atau bercerita dengan menggunakan alat peraga. Selain itu, kita juga dapat menstimulasi anak dengan berbagai permainan seperti permainan kartu bergambar dan menempelkan berbagai poster huruf dan kata di ruang bermain anak. 

Referensi 

[1] Hanifah, Tisna Umi. 2014. “Pemanfaatan Media Pop-Up Book Berbasis Tematik untuk Meningkatkan Kecerdasan Verbal-Linguistik Anak Usia 4—5 Tahun (Studi Eksperimen di TK Negeri Pembina Bulu Temanggung)”. Jurnal Early Childhood Education Papers (Belia). Vol. 3, No. 2, p. 46—54.

[2] Musyadad, Faridl dan Santi Ambar Ingrum. 2018. “Pengaruh Metode Bercerita terhadap Kecerdasan Linguistik Anak Usia Dini di TK Se-Kecamatan Parakan, Temanggung, Jawa Tengah”. Journal of SECE, p. 67—74.

[3] Ulwiyah, Imaratul. 2019. “Pengaruh Story-Reading (Buku Bilingual) terhadap Perkembangan Kecerdasan Linguistik Anak Usia Dini”. Journal of Elementary School, Vol. 2, No. 2, p. 40—49.[4] Novianti, Rahmah. 2013. “Pengaruh Permainan Kartu Bergambar dan Kecerdasan Linguistik terhadap Kemampuan Membaca Permulaan”. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol. 7, Edisi 2.

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *