Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/seameoce/public_html/web/wp-includes/post-template.php on line 293

Mengasah Kecerdasan Logika Matematika dengan Bermain

Ruzain dan Tobias duduk berhadapan. Di antara keduanya terdapat sebuah papan yang memiliki lubang-lubang kecil. Di setiap lubang, terdapat biji salak dengan jumlah yang sama banyaknya. Secara bergantian, kedua anak tersebut bergantian membagi biji dalam deret di hadapannya.

Apakah Sahabat Ceccep tahu apa yang sedang Ruzain dan Tobias lakukan? Ya, benar. Keduanya sedang asyik bermain congklak. Permainan tradisional ini bisa menggunakan biji tertentu, keong kecil, kancing, atau kerikil sebagai benda yang harus dibagikan secara merata. Permainan ini ternyata bisa meningkatkan kecerdasan logika dan matematika buah hati kita, lho. 

Kecerdasan Logika dan Matematika

Kecerdasan logika matematika (math-logical intellegence) dapat diartikan sebagai kemampuan mengenal warna dan bentuk secara efektif untuk meningkatkan keterampilan mengelola angka serta menggunakan logika atau akal sehat.  Kecerdasan ini dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berpikir sistematis, menggunakan angka, melakukan penghitungan, menemukan hubungan sebab akibat, dan membuat klasifikasi. [1]

Pernyataan di atas sejalan dengan pendapat Amstrong yang menyatakan bahwa kecerdasan logika matematika berkaitan dengan kemampuan mengolah angka atau kemahiran menggunakan logika. Dengan demikian, anak yang cerdas dalam logika matematika menyukai kegiatan bermain yang berkaitan dengan berpikir logis, menghitung benda-benda serta mudah menerima dan memahami penjelasan sebab akibat. [2] Anak yang mempunyai kelebihan dalam kecerdasan logika matematika juga tertarik memanipulasi lingkungan dan cenderung menerapkan strategi coba ralat. Selain itu, mereka suka menduga-duga dan memiliki rasa ingin tahu yang besar . [1]

Faktor Penyebab dan Indikator

Terdapat empat faktor penyebab seorang anak memiliki kecerdasan logika matematika ini.

  1. Faktor herediter/ bawaan dari keturunan. 

Pada dasarnya, setiap anak membawa gen kecerdasan termasuk kecerdasan logika matematika ini. Namun, setiap anak tentunya memiliki kadar yang berbeda-beda. 

  1. Faktor lingkungan. 

Lingkungan tempat tumbuh kembang anak juga memberi pengaruh. Hal tersebut terjadi terutama saat panca indera anak sudah mulai berfungsi dengan baik. Oleh sebab itu, kita perlu menyiapkan lingkungan yang dapat membantu anak mengembangkan kecerdasan logika matematikanya, ya, Ayah dan Bunda.

  1. Faktor nutrisi.

Nutrisi juga memberi pengaruh pada tingkat kecerdasan anak. Tentu saja jumlah nutrisi tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan tubuh untuk menyerapnya. 

  1. Faktor kejiwaan

Emosi juga berperan dalam menumbuhkan minat dan kecerdasan anak termasuk dalam kecerdasan logika matematika ini.

Lalu, apa indikator anak memiliki kecerdasan logika matematika  seperti ini? Setidaknya ada empat indikator [1] yaitu;

  1. membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan) seperti ketika anak menyusun balok membentuk menara sambil menghitung dengan urut dari yang kecil sampai besar,
  2. menghubungkan/ memasangkan lambang bilangan dengan benda dan anak dapat mengambil benda sesuai dengan angkanya,
  3. mengelompokkan bentuk-bentuk geometri,
  4. mengelompokkan benda dengan berbagai cara menurut ukuran, bentuk, warna, jenis, dan lain sebagainya. 

Permainan untuk Menstimulasi

Setelah mengetahui pengertian, faktor, dan indikator kecerdasan logika matematika, kita bisa memilih permainan yang dapat menstimulasi kecerdasan tersebut lho. Beberapa permainan dapat dilakukan selain bermain congklak seperti yang dilakukan Ruzain dan Tobias di atas. 

Kita bisa mengajak anak untuk bermain kartu angka (flashcard). Permainan ini menggunakan kartu yang bergambar dan memiliki angka. Anak diajak untuk mengidentifikasi angka. Pada tingkat lanjut, anak dapat diperkenalkan dengan konsep matematika yang lain seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Permainan kartu angka ini memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan tersebut yaitu; 1) merangsang anak untuk lebih cepat mengenal angka, 2) menguatkan minat anak dalam konsep bilangan, 3) merangsang kecerdasan dan ingatan anak, 4) mengembangkan kemampuan kognitif, 5) meningkatkan kemampuan terkait konsep berhitung dengan baik, 6) mengenalkan urutan bilangan dan pemahaman konsep angka dengan baik kepada anak, 7) membantu anak memahami konsep penambahan dan pengurangan dengan baik dengan menggunakan gambar dan benda. [1]

Stimulasi lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak anak menyelesaikan puzzle. Puzzle merupakan potongan dari bentuk utuh. Usahakan bentuk utuh itu merupakan bentuk favorit atau bergambar sesuatu yang disukai anak. Dengan mencari potongan puzzle dan mencocokkannya dengan bentuk lain, anak dapat mengasah kemampuan logika dan pemecahan masalah. Terutama kalau anak kesulitan melengkapi puzzle, orang tua dapat membantu menemukan solusinya. 

Bagaimana jika anak masih bayi? Kita dapat mengenalkan bentuk geometri pada anak sejak dini. Cara paling sederhana adalah dengan menggantung berbagai bentuk geometri di atas tempat tidurnya. Usahakan warna yang digunakan pada bentuk geometri tersebut adalah warna cerah dan menarik, ya, Ayah dan Bunda.  

Selain meletakkan bentuk geometri,  kita dapat menstimulasi anak dengan mengajaknya bernyanyi. Kita dapat mengenalkan bilangan melalui sajak berirama dan lagu. Dengan diiringi musik dan gerakan yang menarik, anak akan semakin tertarik mempelajari bilangan. 

 Cara lain adalah dengan mengajak anak berdiskusi. Misalnya menanyakan sesuatu yang terkait pola hubungan sebab dan akibat atau perbandingan. Dengan melakukan diskusi terkait hal sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kita mengajak anak untuk berpikir logis. Pada saat yang sama, kedekatan antara orang tua dan anak juga akan terjalin. 

Mengajak anak untuk mengenali pola juga bisa kita lakukan. Misalnya mengajak anak meletakkan buku di rak dengan aturan tertentu. Aturan itu bisa terkait dengan urutan seri buku, warna cover buku, atau besar dan bentuk buku. 

Tidak hanya buku, anak juga bisa diberi tanggung jawab membereskan mainan. Misalnya, anak diminta untuk memasukkan mainan dalam box tertentu sesuai dengan pengelompokan yang telah ditentukan. Selain melatih kecerdasan logika matematika, kegiatan ini juga membantu anak untuk lebih disiplin.

Hmmm, mengajak anak berbelanja juga menjadi salah satu stimulasi kecerdasan logika matematika, lho. Ketika anak melihat interaksi antara orang tuanya dengan penjual, secara tidak langsung anak akan belajar konsep matematika. Bahkan jika terjadi tawar menawar harga, anak akan belajar konsep matematika berupa pengurangan. 

Selain itu, kegiatan memasak bersama juga bisa dilakukan. Anak dapat mempelajari cara memasak sesuatu dengan memperhatikan takaran setiap bumbu dan bahan yang akan di masak. Anak juga dapat belajar mencermati waktu yang digunakan untuk memasak.

Oh ya, bagaimana dengan ular tangga? Anak melempar dadu dan menggerakkan pionnya sesuai sisi mata dadu yang dilemparnya. Permainan ini bahkan bisa dikaitkan dengan kecerdasan lain misalnya memberikan pertanyaan di kotak nomor tertentu. 

Permainan di luar rumah juga bisa dilakukan untuk menstimulasi kecerdasan logika matematika ini. Ajak anak untuk bermain engklek, misalnya. Buatlah pola tertentu di halaman rumah.  Ajak anak untuk melompat dan  mengangkat satu kaki secara bergantian sesuai dengan angka yang tertera. Permainan ini tidak hanya melatih kecerdasan logika matematika, tetapi juga melatih kemampuan motorik kasar anak. 

Bagaimana, ternyata banyak sekali, ya, kegiatan yang bisa menstimulasi kecerdasan logika matematika ini? Selamat mencoba. 

Referensi

[1] Mufarizzuddin. 2017. “Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak Melalui Bermain Kartu Angka Kelompok B di TK Pembina Bangkinang Kota”. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol. 1, No. 1, p. 62—71. 

[2] Rozi, Nova. 2012. “Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak Melalui Permainan Berhitung Menggunakan Papan Telur di TK Aisyiyah 7 Duri”. Jurnal Ilmiah Pesona PAUD. Vol. 1, No. 1, p. 1—10.

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *