Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/seameoce/public_html/web/wp-includes/post-template.php on line 293

Mengasah Kecerdasan Interpersonal Anak

Ada seorang murid saya yang pandai, tapi dia tidak disukai teman-temannya karena menurut anak-anak dia itu suka ingin menang sendiri.” (Ibu X, guru sebuah TKQ di Bandung)

“Kalau saya perhatikan, anak saya itu seperti orang populer di sekolahnya. Banyak yang pengen main sama dia, kadang pernah saya lihat dia melerai temannya yang lagi rebutan mainan..” (Ibu dari T, 6 Tahun)

“Kenapa ya anak saya suka rebut mainan temennya dan kalau ada kegiatan gitu nggak mau kalah?” (Bunda dari M, 5 Tahun)

***

Halo, Sahabat CECCEP!

Apakah kita merasa akrab dengan pernyataan ketiga ibu di atas?

Ya, ketiga pernyataan di atas adalah sedikit ilustrasi yang berkaitan dengan kecerdasan interpersonal atau kecerdasan sosial. Salah satu dari delapan kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Sayangnya dewasa ini, sebagian besar dari kita justru berlomba-lomba mengasah kecerdasan kognitif semata. Tak hanya itu, penggunaan gadget di usia dini pun menambah daftar ‘terbengkalai’-nya kecerdasan interpersonal untuk di asah. Padahal kecerdasan interpersonal ini penting dimiliki anak sebagai bekal mereka terjun ke masyarakat kelak.

Lantas, apa kecerdasan interpersonal dan bagaimana ciri-cirinya? 

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk berkomunikasi, peka terhadap emosi orang lain, mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, memiliki empati, dan suka menolong orang lain. Anak dengan kecerdasan interpersonal yang cukup baik menunjukkan perilaku yang adaptif, mereka juga mampu bekerja dalam kelompok, bahkan cenderung disukai oleh teman-temannya. 

Anak dengan kecerdasan interpersonal yang tinggi dapat kita lihat dari kepiawaian mereka ketika berinteraksi dengan orang lain, mereka sangat menyukai aktivitas yang melibatkan orang lain. Mereka juga dapat mengemukakan pendapatnya dengan baik. Biasanya anak dengan kecerdasan interpersonal juga suka mewakili kelompoknya untuk berbicara dan tentu saja mereka senang melakukan ativitas kerja kelompok. Sejalan dengan kesukaan mereka untuk terlibat dalam kelompok, mereka juga menunjukkan kemampuan yang baik dalam memimpin, pendengar yang baik, memiliki solidaritas yang tinggi, peka terhadap perasaan orang lain, dan cukup percaya diri.

Kita tidak perlu risau jika belum menemukan kecerdasan interpersonal dalam diri anak kita. Boleh jadi anak kita lebih unggul dalam kecerdasan yang lain. Namun, bukan berarti kecerdasan interpersonal ini diabaikan. 

Nah, kabar baiknya Sahabat CECCEP, kecerdasan interpersonal ini dapat diasah sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan melalui berbagai permainan. Mari simak delapan cara untuk menstimulasi kecerdasan interpersonal anak, berikut ini:

  • Komunikasi

Sahabat CECCEP, bisa memancing anak menyampaikan pendapatnya melalui berbagai kejadian yang terjadi di sekitar.

Misalnya, kita bisa membahas mengenai Covid-19, sudah lama tidak bersekolah, sudah lama tidak bepergian, harus memakai masker, harus selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak ketika berada di luar. Kita bisa bertanya pada anak apa yang dipikirkan dan dirasakannya akan hal itu.

Tak hanya itu, dengan sering melakukan komunikasi dua arah dengan anak. Kita juga mendapat bonus mempererat bonding dengan anak. Jangan lupa untuk letakkan ponsel, tatap matanya, mengarahkan posisi tubuh ke arahnya, agar anak merasa diperhatikan dan didengarkan.

  • Hubungan dengan orang lain

Kita perlu menanamkan kebiasaan baik yang akan bermanfaat bagi anak dalam menjaga hubungannya dengan orang lain. Ya, empat kata ajaib yang harus selalu kita sampaikan pada orang lain sebelum atau setelah mendapat sesuatu. Apa saja empat kata ajaib itu? Terima kasih, tolong, maaf, dan permisi.

Selain tentunya kita sendiri mencontohkan pada anak. Anak juga diberi kesempatan berlatih agar terbiasa. Bisa melalui bermain peran, atau bisa juga dilakukan secara langsung ketika terjadi momen yang tepat bagi anak. Misalnya ada saudara yang memberi kue, jika belum terbiasa, pancing anak untuk berterima kasih. Lama-lama anak akan terbiasa menyampaikan empat kata ajaib tersebut tanpa kita ingatkan lagi.

  • Kasih sayang

Pada dasarnya anak-anak sudah memiliki sifat kasih sayang terhadap sesama. Hal ini dapat dilihat bagaimana mereka memperlakukan mainan atau orang tuanya ketika sakit. Namun tentu hal ini berbeda dengan orang di luar lingkaran keluarga.

Nah, untuk terus memupuk rasa kasih sayang terhadap sesama kita perlu mengajak anak memperhatikan sekitarnya. Misalnya merawat dan memberi makan hewan kesayangan.  Kita juga bisa mengajak anak berkunjung ke panti asuhan, berbagi kasih sayang dengan teman-temannya yang kurang beruntung.

  • Berbagi

Meski anak usia dini masih kentara dengan fase egosentrisnya. Namun tidak ada salahnya jika mengajak mereka untuk belajar berbagi sejak dini, tentunya tanpa paksaan. Sebelum mengajak anak berbagi, sebaiknya kita memberi contoh terlebih dulu pada mereka. Perlahan anak akan tertarik dengan aktivitas yang sedang kita lakukan, dan seiring waktu mereka akan dengan sukarela ikut terlibat.

Misalnya, kita akan bersedekah makan siang setiap hari Jumat. Maka tampilkan di depan anak bagaimana serunya proses mulai dari membungkus nasi beserta lauknya, hingga membagikan pada pemulung, tukang becak, dan orang-orang yang membutuhkan.

  • Kepemilikan

Anak usia dini akan selalu merasa semua benda miliknya. Maka, kita perlu mengajarkan mana miliknya dan mana milik orang lain. Kita juga perlu mengajarkan hak barang tersebut untuk dirawat dan dijaga. 

Selain itu, kita juga perlu mengajarkan pada anak untuk meminta izin terlebih dahulu ketika akan memakai barang milik orang lain. Lagi-lagi kita perlu mencontohkan terlebih dahulu dengan meminta izin terlebih dulu ketika akan memakai barang milik anak. Dan kita harus menghargai keputusan anak, apakah mereka mengizinkan atau tidak. Dengan demikian, anak merasa dihargai sekaligus belajar bagaimana caranya menghargai orang lain. 

  • Kepedulian

Untuk menstimulasi kecerdasan interpersonal anak, kita perlu memupuk kepedulian anak sejak dini. Kepedulian ini bisa mencakup banyak hal. Termasuk peduli pada perasaan orang lain. 

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengasah kepedulian anak. Mulai dari membacakan cerita, menonton film, menghubungi saudara yang sedang sakit dan mendoakannya, menghubungi saudara yang baru melahirkan. Kita juga bisa melakukannya melalui bermain peran, bahkan bisa juga melibatkan si kecil untuk membantu kita memasak di dapur dapat menjadi pilihan aktivitas mengasah kepedulian anak.

  • Kemandirian

Anak yang mandiri akan lebih mudah untuk menolong orang lain. Karena dirinya sendiri tidak bergantung pada orang lain. Dengan membiasakan anak mandiri ia akan bisa menolong orang lain.

Kita bisa menjadikan aktivitas makan sendiri, mandi sendiri, memakai baju sendiri, atau memakai sepatu sendiri dengan cara menyenangkan. Misalnya jika berhasil makan sendiri dan meletakkannya di tempat cuci piring, maka anak berhak mengambil stiker reward dan menempelnya sendiri.

  • Perasaan

Anak perlu diasah kepekaaan rasanya. Apakah orang lain merasa nyaman dengan kita atau tidak. Salah satu caranya adalah dengan mengenalkan ragam emosi yang dirasakan sehari-hari. Kita bisa mengenalkannya melalui buku cerita, film Inside Out, atau permainan menebak ekspresi wajah.

Kita bisa mengajak anak bermain peran, kemudian saling menebak ekpresi wajah. Kemudian kita bisa menggali pesan dibalik setiap ekspresi. Apa yang dirasakannya ketika melihat ekspresi marah dari orang lain, apa yang membuat mereka biasanya marah, bahagia, atau sedih,

Selain cara-cara di atas. Jika situasi sudah memungkinkan, kita bisa mengajak anak untuk bermain permainan tradisional bersama teman-temannya seperti petak umpet, gobak sodor, bentengan, dan permainan lain yang melibatkan partisipasi anggota kelompok.

Nah, Sahabat CECCEP. Kecerdasan interpersonal jangan sampai terabaikan, karena kelak kecerdasan ini akan menolong anak untuk beradaptasi dan terjun ke masyarakat.

Referensi:

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *