Ragam Teknik Peran Mendampingi Anak Bermain Agar Lebih Bermakna

Play is the work of the child – Maria Montessori

Pada suatu hari dalam jadwal kunjungan rutin ke Casa Dei Bambini (Rumah Bagi Anak-anak), Maria Montessori menyaksikan seorang gadis kecil yang sedang begitu gigih menyusun balok silinder bergradasi. Montessori saat itu mengujinya dengan membiarkan anak-anak lain untuk berjalan mondar-mandir dengan suara berisik, tapi gadis itu tetap tidak terganggu. Akhirnya Montessori meminta semua agar diam. Gadis berusia tiga tahun itu tampak tidak terpengaruh oleh lingkungannya. Montessori pun meletakkan sebuah kursi di samping gadis itu, dan rupanya gadis itu mengambilnya kemudian naik ke atas kursi tersebut. Ia pun melanjutkan menyusun balok silinder bergradasi, dan ketika berhasil wajahnya terlihat begitu puas. Montessori mengamati bahwa anak itu telah melakukan bongkar pasang balok sebanyak 40 kali. 

Montessori membebaskan anak-anak untuk memainkan seluruh alat peraga. Meski terkesan dibiarkan tetapi anak-anak di Casa Dei Bambini akan mengembalikan meja, kursi, balok, dan alat peraga lain pada tempatnya ketika mereka sudah selesai menggunakannya. Rupanya, Montessori tetap mengedepankan lingkungan yang aman, bersih, dan mendukung anak bereksplorasi yakni alat peraga dan permainan diletakkan pada tempat yang dapat dijangkau oleh anak-anak. Montessori juga menerapkan aturan bebas berbatas yaitu bebas bermain tetapi tetap teratur, bergiliran, dan bertanggung jawab terhadap alat yang sedang dimainkan. 

***

Halo, Sahabat CECCEP!

Bermain adalah kebutuhan mendasar anak usia dini untuk mengasah kemampuan-kemampuannya dan menuntaskan rasa ingin tahunya akan segala hal. Namun tentunya agar bermain menjadi lebih bermakna dan tidak berbahaya, kita sebagai orang tua tetap harus mendampingi mereka. 

Dalam lima tahun pertama kehidupannya, otak manusia seperti spons yang mampu menyerap segala informasi yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Sehingga masa ini menjadi masa yang tepat bagi mereka untuk belajar konsep-konsep dasar, seperti mengenal anggota tubuh beserta fungsinya, mengenal anggota keluarga, mengenal nama-nama objek baik benda hidup maupun benda mati, dan banyak hal lain yang bisa kita sampaikan pada anak-anak. 

Pentingnya kita mendampingi mereka agar tidak terjadi pemahaman yang keliru pada anak di kemudian hari. Misalnya: seorang anak sejak kecil diberitahu bahwa nama kemaluannya adalah “burung”, dan dia begitu terkejut ketika melihat burung dapat terbang. Saat itu juga ia menangis karena takut “burung” miliknya terbang. Mungkin bagi orang dewasa hal ini terdengar lucu, tetapi tidak pada anak-anak. Jika reaksi kita tertawa saat ia menangis karena takut “burung”-nya terbang, maka boleh jadi reaksi tawa kita menjadi luka bagi dirinya. Dalam pikirannya tidak ada yang salah, kenapa harus ditertawakan? Justru saat itu ia sangat takut jika “burung”-nya terbang, ia tidak bisa buang air kecil. 

Selanjutnya Sahabat CECCEP, masa lima tahun ini juga adalah masa yang tepat bagi mereka juga belajar nilai-nilai kebaikan yang kelak menjadi pondasi bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Seperti berkata jujur, empati, mandiri, bertanggung jawab, disiplin, atau menjaga kebersihan. Sahabat CECCEP, bisa melanjutkan membuat daftar nilai kebaikan lain yang ingin diterapkan pada anak. Hal ini tentu saja melalui pendampingan yang mana nilai-nilai kebaikan tersebut bisa kita tanamkan pada anak perlahan saat mereka bermain. 

Selain untuk menyampaikan konsep dasar dan nilai-nilai kebaikan, pendampingan orang tua juga diperlukan agar anak dapat bermain dengan aman dan terhindar dari bahaya. Seperti anak di bawah usia tiga tahun yang dikhawatirkan menelan benda kecil. Atau bagi anak yang lebih besar tentu kita khawatir mereka cedera karena tingkat aktivitas fisiknya yang tinggi, seperti melompat atau berlarian tanpa melihat adanya bahaya di sekitar mereka.

Sahabat CECCEP, jika melihat ilustrasi di atas, Montessori berperan sebagai fasilitator bagi anak yang sedang menyusun balok silinder bergradasi. Montessori hanya menemani dan memfasilitasi apa yang dibutuhkan anak tersebut untuk menyelesaikan permainannya. Lantas seperti apa teknik mendampingi anak yang cocok bagi kita? Apakah cukup menjadi fasilitator seperti Montessori? Atau perlu terlibat secara langsung?

Nah, Sahabat CECCEP tak perlu bingung. Mari simak empat teknik peran mendampingi anak bermain yang dapat kita terapkan, berikut ini:

  • Fasilitator

Mendampingi anak sebagai fasilitator bukan berarti kita hanya diam mendampingi anak bermain. Tetapi kita juga mengarahkan anak bagaimana cara bermain suatu permainan. Kemudian jika kita membebaskan anak, maka kita cukup mengarahkan mana yang boleh tidak boleh dimakan atau mana yang bisa mereka mainkan. Teknik ini cocok bagi Sahabat CECCEP yang memiliki anak usia dibawah tiga tahun. Karena pada tahapan ini, permainan lebih banyak seputar merangsang ranah sensori dan motorik anak. Namun, tergantung pada aktivitas anak, ya, Sahabat CECCEP. Sehingga teknik ini pun bisa diterapkan jika anak kita di atas tiga tahun.

Teknik peran fasilitator ini dapat diterapkan pada permainan yang tidak membutuhkan banyak instruksi atau permainan yang bisa dimainkan sendiri oleh anak. Misalnya, bermain beras, bermain water beads, meronce, bermain manik-manik, bermain play dough dengan beragam cetakan, atau sekadar menyusun balok. Di akhir sesi permainan, kita bisa memberikan instruksi pada anak usia dua tahun ke atas untuk mengembalikan peralatan ke tempatnya atau membantu kita membereskannya. 

  • Pengajar

Teknik ini dapat diterapkan untuk anak usia tiga tahun ke atas, karena aktivitas permainan pun semakin beragam seiring bertambahnya usia anak. Tak hanya sekadar mengasah sensori dan motoriknya, anak juga mulai bisa belajar banyak hal dari permainan-permainan yang dilakukan. Kita menerapkan teknik peran pengajar ketika ingin anak mempelajari sesuatu yang penting dari permainan yang dilakukan. Tugas kita tak sekadar mendampingi, tetapi juga menjelaskan mengenai sebab-akibat terjadinya sesuatu dengan bahasa yang sederhana.

Contohnya permainan sains tentang proses turunnya hujan yang menggunakan shaved foam, air, serta pewarna makanan. Anak akan tertarik melihat warna-warni tetesan “hujan” yang turun dari shaved foam. Kita bisa menjelaskan bahwa hujan turun jika air sudah memenuhi awan. Biarkan anak yang meneteskan pewarna ke atas shaved foam. Di samping itu kita juga bisa menanamkan nilai-nilai, seperti menjaga kebersihan agar ketika hujan tidak banjir. Kita bisa memberikan contoh kondisi banjir melalui foto atau video.

  • Motivator

Sahabat CECCEP, untuk teknik ini dapat diterapkan pada setiap usia dan aktivitas permainan. Namun tetap memperhatikan tujuan dari permainan yang akan dilakukan oleh anak. Akan lebih banyak diterapkan pada permainan yang melibatkan fisik, seperti lomba lari, bermain lompat kodok, bermain gerobak (dimana orang tua memegang kaki anak, lalu anak berjalan dengan menggunakan kedua tangannya), dan sebagainya. 

Namun sebetulnya untuk memberi motivasi pada anak bisa kapan pun asalkan pada waktu yang tepat, ya. Dan motivasi yang diberikan pun menggunakan kalimat pendek yang sederhana. Misalnya kita bisa mengatakan, “Ayo, Nak, nggak apa-apa perlahan. Kamu pasti bisa.”

  • Komunikator

Teknik peran mendampingi yang terakhir ini dapat diterapkan sejak anak sudah mulai berkomunikasi dua arah. Kita bisa melakukannya ketika membacakan nyaring (Read A Loud). Selain membacakan cerita dengan berbagai ekspresi, kita juga bisa berdiskusi dengan anak mengenai pesan yang terkandung dalam cerita yang telah disampaikan. Kita bisa mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rasakan pada kisah tersebut.

Misalnya, kita membacakan nyaring kisah tentang monster pemakan kue. Kita bisa bermain ekspresi dan memainkan suara saat berkisah. Kemudian bertanya pada anak bagaimana perasaan mereka setelah mendengar kisah tersebut, apa yang mereka pikirkan tentang masing-masing tokoh, dan pesan apa yang mereka peroleh dari cerita tersebut.

Untuk menjadi pendamping anak kala bermain bisa menjadi siapa saja. Bisa kakek-neneknya, pengasuhnya, atau siapa saja yang berkesempatan mendampingi anak bermain. Di samping itu, jangan lupa agar lingkungan dibuat seaman mungkin dan tetap berada dalam jangkauan anak-anak agar memudahkan mereka ketika mereka harus mengembalikan barang ke tempatnya. Hal ini menjadi sangat penting agar anak belajar bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya.

Nah, Sahabat CECCEP. Pendampingan pada anak usia dini adalah hal yang penting untuk dilakukan. Selain untuk menghindarkan mereka dari bahaya, dengan mendampingi anak bermain juga kita membuat permainan menjadi lebih bermakna. Karena banyak nilai dan konsep dasar yang dapat kita tanamkan sebagai pondasi bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Selamat mencoba!

Referensi

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *