Menemani Bayi Bermain dan Bereksplorasi

“Akhirnya, anakku makan!” Begitu kira-kira pekikan orang tua muda saat menyambut bayinya memasuki usia 6 bulan. Masa-masa MPASI (Makanan Pendamping ASI) di depan mata. Hal yang terbayang adalah bahwa bayi tidak akan terlalu nemplok pada ibunya karena sudah mulai makan, punya kesenangan sendiri. Bayi akan punya mainan sendiri. Akan tetapi benarkah kenyataannya demikian?

Memang benar, memasuki usia 6 bulan atau 180 hari, sudah saatnya bayi mencoba makanan padat sebagai pendamping ASI. Namun, tentu saja bayi juga membutuhkan masa adaptasi dalam berkenalan dengan MPASI tersebut. Tidak selalu mulus jalannya. Ada kalanya bayi GTM (Gerakan Tutup Mulut), melepeh, atau bahkan menangis. Hal ini terkadang lupa orang tua persiapkan. Belum lagi, ternyata perhatian anak mudah sekali terganggu oleh mainan saat sedang makan. Tidak mengapa, mari kita barengi dengan mengoptimalkan masa bermain di usia ini. Selain memang pada usia ini bayi mulai menyadari ada lingkungan menarik selain dirinya untuk dieksplorasi, lewat bermain juga orang tua bisa menanamkan kebiasaan makan yang baik untuk sang buah hati. Apa saja yang bisa dilakukan?

  • Bermain Air Dalam Bak Kecil

Siapa yang tak suka main air? Meski tidak pergi ke kolam renang, bayi tetap bisa asyik bermain air di rumah. Malah, kondisi yang tidak terlalu ramai juga lebih tenang bagi bayi yang masih berada pada tahap merasa aman jika berada dekat pengasuh utamanya, seperti orang tuanya. Di rumah, orang tua bisa mempersiapkan bak mandi kecil khusus bayi atau ember ukuran agak besar yang cukup untuk diduduki bayi. Di usia 6 bulan bayi sudah mulai bisa duduk sendiri sebagai prasyarat siap MPASI. Maka, berendam sedikit di dalam ember akan menyenangkan baginya yang sedang menemukan keseruan duduk. Mainan yang mengapung dan tenggelam bisa diajak serta. Busa atau spons juga boleh ikutan, supaya bayi menyenangi kegiatan meremas yang baik untuk melatih kekuatan otot tangan. Hal ini baik untuk motorik halusnya.

  • Membaca Board book

Milikilah beberapa buku anak berkertas tebal dari bahan karton yang lebih sering dikenal sebagai board book. Saat ini di toko buku sudah tersedia banyak sekali pilihan buku yang ramah untuk bayi dari segi tema, gambar, dan pilihan bahan. Biarkan anak bereksplorasi dengan buku yang ukurannya pas dengan jemarinya. Tidak mengapa jika buku masih terbalik dan ia hanya membolak-balik halaman. Ini langkah awal yang bagus! Dengan mengenallkan buku sedini mungkin, orang tua telah mendekatkan buku dalam keseharian anak bermain. Kelak anak akan mudah menyukai buku dan menyukai kegiatan membaca. Temani anak mengenali gambar-gambar dan jalan cerita di buku, lalu mengaitkankannya dengan peristiwa konkrit yang terjadi di kehidupan anak.

  • Memanfaatkan Flashcard

Flashcard atau kartu bergambar adalah salah satu alat yang cukup populer dalam menstimulasi perkembangan anak, terutama dalam membaca, menulis, dan berhitung. Namun, tidak perlu terburu-buru, Sahabat CECCEP! Untuk bayi, pilihlah flashcard yang berisi foto atau gambar asli dari sebuah benda. Kumpulkan kartu bergambar benda-benda di sekitar anak. Bisa berupa perabotan di rumah, mainan anak, buah, sayur, hewan, dan lain sebagainya. Flashcard ini bisa menjadi alat pendamping saat, misalany, orang tua mendongeng. Atau bisa juga dipakai untuk penanaman kebiasaan baik. Coba pilih gambar buah, sayur, atau makanan. Orang tua bisa menyebutkan nama, bentuk, warna, dan betapa enaknya makanan tersebut. Cari kartu bergambar pisang dan bawa pisang dalam bentuk aslinya. Perhatikan bahwa anak akan menyadari secara bertahap ada benda yang sama. Ia jadi penasaran ingin mencoba, deh. Nyam nyam!

  • Finger Food

Taruhlah beberapa makanan empuk segenggaman bayi atau yang disebut dengan finger food di hadapannya. Wortel kukus, apel kukus, telor dadar yang dipotong kecil adalah beberapa contoh di antaranya. Biarkan anak menyentuh, mencium, dan memakannya. Bagaimana jika malah tidak dimakan? Tidak mengapa, ini baru sesi perkenalan. Harapannya, lewat cara ini anak akan lebih akrab saat mencoba makan tersebut di jam makannya.

  • Menjelajah Furnitur Rumah

Memasuki usia 6 bulan memang semakin banyak posisi tubuh yang bayi bisa lakukan dari sebelumnya. Mulai dari duduk, merangkak, berdiri, dan akhirnya berjalan. Pahami bahwa setiap tahap ini penting, jangan sampai ada yang terlewat. Bersabarlah akan setiap proses, jangan tiba-tiba anak sudah bisa berjalan tanpa melewati tahap-tahapnya. Supaya anak mau merangkak, orang tua bisa menaruh mainan kesukaan di depan bayi dan digerakkan perlahan supaya dikejar bayi. Orang tua juga boleh ikutan merangkak. Menaruh barang di sofa juga akan mendorong bayi berpegangan pada sofa dan mencoba berdiri. Ini biasanya terjadi di usia 10 bulan. Lama-kelamaan bayi akan mencoba memanjat sofa. 

Di lain kesempatan, ketika tulang-tulang penyangga di kakinya sudah semakin kuat, bayi akan perlahan menyusuri pinggiran sofa, meja, dan kursi demi kursi untuk mencoba berjalan. Hal yang perlu diperhatikan adalah, di rentang usia ini bayi cukup sering terjatuh dalam posisi duduk dan ada potensi kepalanya terbentur karena banyak bereksplorasi. Yuk, pastikan ada ruangan childproof di rumah supaya masa-masa ini terlalui dengan nyaman dan optimal.

  • Mencari Benda

Wah, sekarang bayi mungil ini sudah mulai suka bercanda dan menyukai tantangan. Coba untuk menyembunyikan boneka kesayangannya di bawah selimut. Lakukan penyembunyian di depan matanya dan tunggu anak bereaksi atas hilangnya boneka. Bagi anak di usia ini, benda tersebut betul-betul hilang. Termasuk ketika orang tua mengajaknya Ciluk Ba, anak menyangka orang tuanya benar-benar hilang! Ia akan merasa lega ketika melihat kembali wajah orang tuanya. Seiring bertambahnya usia, jumlah benda yang disembunyikan bisa ditambah, asalkan jangan terlalu susah, ya.

Penggunaan mainan yang aman bagi bayi, seperti tidak berbulu banyak, berukuran tidak terlalu kecil supaya bayi terhindar dari tersedak, dan mempunyai tekstur yang tidak melukai, dapat digunakan sebagai alat bantu. Penggunaan gadget juga masih perlu dibatasi supaya tidak menjadi candu dan merusak mata bayi. Sebenarnya, tubuh dan kehadiran orang tuanya lah yang menjadi mainan kesukaannya. Bayi sangat senang mendengar orang tua bercerita, bergerak, memandikan, memeluk, dan berbicara dengannya. Berbicara dengan bahasa yang baik juga sangat disarankan diberikan kepada bayi. Selain untuk perkembangan kemampuan berbahasa, hal tersebut juga ternyata merangsang perkembangan kognitif di otak bayi. Saat hal-hal menarik ini dilakukan bersama orang tuanya, rasa penasaran, pemusatan perhatian, penggunaan memori, perkembangan sistem syaraf, dan kecintaannya dalam mempelajari sesuatu yang baru ikut bertumbuh. Yuk, sediakan waktu untuk rebahan sejenak saja bersama bayi kesayangan di rumah.

Sumber referensi: 

  1. Building Baby’s Intelligence: Why Infant Stimulation Is So Important by Health and Safety Notes California Childcare Health Program (https://cchp.ucsf.edu/sites/g/files/tkssra181/f/buildbabyinten081803_adr.pdf)
  2. Babies Exposed to Stimulation Get brain Boost (https://www.sciencedaily.com/releases/2017/01/170102143458.htm)
  3. Benarkah Flash Card Efektif untuk Bantu Anak Belajar? (https://www.motherandbaby.co.id/article/2019/9/12/13005/Benarkah-Flash-Card-Efektif-untuk-Bantu-Anak-Belajar)  
  4. Kuesioner Pra Screening Perkembangan

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *