Bermain yang Bermakna

Jangan pandang enteng kegiatan bermain. Tidak melulu kegiatan bermain itu hanya membuang-buang waktu saja. Sigmund Freud–seorang psikoanalisis klasik–menegaskan bahwa bermain memiliki nilai teurapetik melebihi tontonan hiburan di layar ponsel. Apalagi jika anak bermain dengan orangtua, banyak manfaat positifnya. Seperti apa dan bagaimana sebaiknya orangtua bermain dengan anaknya?

Sesuai dengan sifatnya yang senang bermain (homo luden), anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan hal ini. Bermain memiliki banyak manfaat bagi anak-anak, di antaranya adalah: melatih berinteraksi dengan lingkungannya, belajar untuk memecahkan masalah, belajar menyampaikan pendapat, dan kerjasama kelompok. Bermain bersifat universal tanpa memandang suku bangsa, budaya, adat-istiadat, agama atau aliran kepercayaan mana pun. Bermain adalah naluri alamiah manusia yang dimulai sejak balita, remaja, orang dewasa, bahkan lanjut usia.  Tanpa bermain, kehidupan akan terasa sangat menjemukan

Sigmund Freud menegaskan bahwa bermain memiliki nilai terapeutik. Bermain adalah kegiatan yang memiliki manfaat untuk mengatasi ketidakseimbangan psiko-emosional dalam diri individu. Bermain bisa menjadi sarana terapi untuk mengatasi kondisi stres, cemas, takut, khawatir, atau depresi yang dialami oleh seorang individu.

Berbeda dengan menonton film, bermain game online, atau menyaksikan video di TikTok, bermain membangun tubuh lebih sehat dan aktif. Bahkan dalam masa pandemi ketika pergerakan dan aktivitas sosial terbatas, bermain secara fisik mampu menumbuhkan rasa optimisme. Bermain memang suatu aktivitas yang fleksibel baik dari segi durasi maupun medianya. Anak bisa berlama-lama bermain hujan misalnya, atau bermain dengan play dough buatan sendiri. Bermain juga tak terpaku pada waktu dan alat permainannya. Kita dapat  menggunakan anggota badan untuk bermain bersama anak, seperti bermain gerobak di mana anak berjalan menggunakan kedua tangannya dan orang tua memegang kaki anaknya. Bagi anak-anak, bermain adalah aktivitas yang dilakukan karena kesukaan, bukan karena harus memenuhi tujuan atau keinginan orang lain, apalagi keinginan orang tuanya sendiri. Ini dikarenakan bermain  dilakukan   untuk   kepentingan   diri   sendiri,   dilakukan   dengan   cara-cara menyenangkan, tidak bertujuan pada hasil akhir, fleksibel, aktif, dan bernuansa positif (Smith dan Pellegrini, 2008). 

Hal ini berarti bahwa keinginan bermain muncul dari dalam diri anak itu sendiri, tanpa paksaan, dan anak menginginkan kesenangan saat melakukannya. Perhatikanlah bagaimana anak-anak bermain, meski hanya berlari-lari bersama orang tuanya, mereka bisa tertawa terbahak-bahak. Hal ini menunjukkan bahwa anak tidak berorientasi pada hasil dari permainan, tetapi mereka menikmati proses permainan itu sendiri.

Pentingnya Bermain dengan Anak Sendiri

Bermain penting untuk perkembangan emosional, kreativitas dan fisik anak. Seiring dengan bertambahnya usia anak, maka kemampuannya dalam menghadapi berbagai masalah dan konflik pun semakin bertambah. Kemampuan ini salah satunya diperoleh dari bermain karena dengan bermain anak melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Ketika bermain, anak juga melatih kemampuannya dalam membaca situasi dan belajar mengenali emosi yang ditunjukkan oleh teman bermainnya. Dapat kita bayangkan, jika kita sebagai orangtua yang menjadi teman bermain anak, kita memiliki banyak kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai positif pada anak melalui permainan. 

Mari kita ambil satu contoh permainan sederhana, misalnya kita bermain lomba lari dengan anak. Meski anak hanya melihat berlari yang menyenangkan, tetapi kita bisa menyelipkan pesan untuk tetap sportif dalam permainan. Mengapa menanamkan nilai-nilai positif pada anak lebih mudah melalui bermain? Karena pada anak usia dini, yang berkembang lebih dulu adalah emosinya. Ketika emosi yang muncul adalah menyenangkan secara otomatis otak akan menyerap informasi lebh mudah dan lebih membekas.

Bermain Bersama untuk Mengenali Karakter dan Bakat Anak

Dengan bermain bersama anak, orangtua dapat mulai menjajaki cara berkomunikasi dengan anak. Dari kegiatan tersebut, bisa diketahui anaknya adalah tipe cerewet atau pendiam. Seorang anak yang cerewet biasanya akan lebih mudah mengungkapkan isi hatinya secara verbal. Sedangkan anak yang pendiam umumnya akan lebih bisa mengekspresikan emosinya melalui permainan. Mungkin akan ada orangtua yang berpikir bahwa sama saja jika anaknya bermain bersama teman sebaya, atau bahkan mungkin dengan teman yang usianya lebih dewasa. Pemikiran seperti itu bisa dibilang keliru. Ada kelebihan tersendiri jika orangtua bermain bersama anaknya. Dalam sebuah karya penelitian dari Stevenson, M. B., Leavitt, L. A., Thompson, R. H., & Roach, M. A. (1988) menyebutkan bahwa sesi bermain orangtua dan anak lebih penting dalam menyiapkan anak untuk berinteraksi sosial dibanding jika anak hanya bermain dengan temannya.  Lagipula, orangtua bisa memberikan variasi permainan yang lebih menarik dan mampu menuntun imajinasi anak agar berkembang menjadi lebih luas. 

Bagi orangtua sendiri, bermain bersama anak akan memberikan rasa bahagia. Mengapa demikian? Menurut penelitian dari Feldman, R., Gordon, I., & Zagoory-Sharon, O. (2010), bermain akan merangsang otak untuk melepaskan hormon oksitonin yang erat kaitannya dengan rasa cinta dan kasih sayang. Maka, selain memberikan rasa bahagia, bermain bersama anak juga mampu mengeratkan hubungan orangtua dan anak. 

Bagi orangtua, bermain dengan anak tidak hanya sekadar mengasuh dan menjaga anak supaya tidak jatuh atau memakan serangga di lantai, tetapi juga mengenali bakat dan tumbuh kembang anak itu sendiri. Dengan sering bermain bersama, anak-anak akan merasa bahwa orangtua mereka dekat sehingga komunikasi yang baik akan terjalin erat. Bagaimana caranya? Cukup dengan memberi fokus seutuhnya ketika bermain bersama anak. Letakkan ponsel, tunda pekerjaan, dan berinteraksi secara aktif pada apa yang sedang dilakukan oleh anak karena seorang anak cukup sensitif melihat perilaku orang tuanya. Mereka dapat merasakan apakah orang tuanya ikut bermain atau hanya sekadar menemani bermain.

Hal ini memberi keuntungan bagi orangtua maupun anak-anak. Orangtua lebih leluasa untuk mengajar, mendidik maupun membina anak-anak agar mereka memiliki karakter yang berkontribusi positif untuk masa depan. Jika ada tumbuh kembang anak yang dirasa terlalu lamban atau terlalu cepat, akan lebih mudah untuk dideteksi. Begitu pula dari segi emosional, dekatnya orangtua membuat anak akan terbuka. Anak akan merasa tidak canggung untuk mengungkapkan isi hatinya pada orangtua.

Asah Otak dan Otot Tak Perlu Dibantu Elektronik!

Parents do not care about their children and child play the phone all the time.

Lalu permainan apa saja yang bisa dilakukan oleh orangtua dan anak di rumah untuk mempererat ikatan emosional? Psikolog Reynitta Poerwito Batch of Psych, M.Psi mengungkap beberapa permainan yang bisa dilakukan bersama keluarga seperti dilansir dari situs Suara.com. Apa saja permainannya?

  • Permainan untuk mengasah kemampuan komunikasi. Seperti permainan tebak gambar, teka-teki silang, scrabble, tanya jawab pengetahuan umum atau bahkan tebak-tebakan lucu yang merangsang anak untuk berpikir. Lalu ada pula permainan strategi. Dalam permainan strategi seperti ular tangga, monopoli, ludo, board game atau bahkan catur, anak harus mengasah otak untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sambil bermain bisa diselipkan obrolan tentang persamaan permainan tersebut dengan dunia nyata seperti, “Kalau kamu punya pesawat, mau pergi ke mana?”. Hal ini akan memicu imajinasi anak, bisa jadi jawaban yang muncul adalah sesuatu yang lucu dan kreatif.
  • Permainan yang merangsang ingatan dan perasaan. Tidak usah terlalu rumit. Orang tua bisa meminta anak untuk mengingat sebuah kejadian atau anak diminta untuk menceritakan perasaannya akan sebuah peritiwa tertentu. Bisa jadi dari permainan ini anak menjadi terlatih untuk bercerita secara lisan atau bahkan menjadi penulis cerita fiksi. Jika diiringi dengan gaya akting dan teatrikal, maka ini akan mengasah kemampuan anak dalam mengekspresikan diri. Atau bisa juga dimulai dengan permainan menebak emosi dasar, seperti bagaimana ekspresi marah, ekspresi sedih, ekspresi bahagia, dan lainnya.
  • Permainan untuk mengasah kemampuan motorik anak. Orangtua bisa membuat permainan merayap di terowongan. Selasar rumah bisa dipasangi tali atau selotip dalam bentuk halang rintang, lalu anak harus mencari cara agar bisa sampai dari satu ujung ke ujung lainnya tanpa harus mengenai halang rintang tersebut.
    Atau paling mudah, orang tua bisa mengajak anak untuk bermain engklekEngklek merupakan permainan tradisional yang punya banyak bahasa berbeda di daerah masing-masing.  Permainan lompat-lompatan ini dilakukan dengan membuat gambar kotak-kotak besar di atas tanah. Tidak perlu ke luar rumah, landasan untuk engklek bisa menggunakan karpet atau kertas koran bekas. Nah, dengan pelbagai permainan yang mengasah otak dan otot ini diharapkan kedekatan orangtua dan anak akan semakin erat.

Yuk, bermain tidak harus selalu menggunakan alat elektronik canggih. Kegiatan fisik dan interaksi langsung tidak mampu menggantikan kecanggihan teknologi apa pun. Apalagi kasih sayang, belum ada pengganti teknologinya!

Sumber: 

“Bermain bagi Anak di Rumah pada Masa Pandemi Covid-19” https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/23/174802620/bermain-bagi-anak-di-rumah-pada-masa-pandemi-covid-19?page=all

“Yuk Coba 3 Permainan Tanpa Gadget Bareng Keluarga Saat di Rumah Aja”

https://www.suara.com/lifestyle/2020/04/16/114059/seru-yuk-coba-3-permainan-tanpa-gadget-bareng-keluarga-saat-di-rumah-aja?page=2

“Why Play With a Child?”

https://www.psychologytoday.com/us/blog/moral-landscapes/201404/why-play-child

“The Importance of Play in Promoting Healthy Child Development and Maintaining Strong Parent-Child Bonds”

https://pediatrics.aappublications.org/content/119/1/182

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *