Bermain Bisa Bikin Pintar!

Kata siapa bermain hanya menghabiskan waktu tanpa makna? Di tangan orang tua kreatif, kegiatan bermain bisa turut mencerdaskan buah hati. Apalagi jika permainannya mengasah otak dan otot, hal itu akan menjadi pondasi yang bagus bagi sang anak ketika dia dewasa nanti. Memberikan anak waktu untuk bermain dan tidak menjejalinya dengan berbagai kegiatan akademis yang belum sesuai umurnya tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk memotivasi anak untuk belajar serta mengeksplorasi kemampuannya.

Semua orang tua tentu menginginkan anaknya untuk bahagia dan sukses sehingga acapkali memaksa anak untuk memperoleh prestasi akademik walau usia anak belum mencapai usia sekolah. Orang tua sering lupa bahwa sebelum anak-anak masuk sekolah, mereka bisa belajar lewat bermain, bukan dengan buku pelajaran, ujian akademik atau kurikulum yang terstruktur. Materi pendidikan anak usia dini memang diarahkan untuk bermain sambil belajar. Metode bermain sambil belajar ini diharapkan dapat mendukung anak untuk tumbuh mandiri dan memiliki kendali atas dirinya sendiri. 

Albert Einstein mengatakan ketika masih anak-anak, ia bermain dengan kompas magnetik. Berjam-jam ia bermain dengan kompas dan keheranan, mengapa jarum kompas mengarah ke utara. Hal itulah yang memicu Einstein untuk mencintai ilmu pengetahuan. Kisah ini diceritakan oleh Einstein dalam buku Internet Invention: From Literacy to Electracy. Bahkan Einstein pun tidak dipaksa untuk menjadi murid pintar oleh orang tuanya. Ia dibiarkan menikmati masa kecilnya seperti anak-anak lainnya yang normal.

Dalam buku berjudul Einstein Never Used Flash Cards oleh Dr. Kathy Hirsh-Pasek, disebutkan bahwa anak-anak harus menjadi anak-anak dan tidak dipaksakan untuk memiliki prestasi akademik. Lebih lanjut lagi, menurut U.S. News and World Report, bermain adalah guru yang paling baik. Anak-anak bisa mengasah ingatannya lewat permainan seperti menyusun Lego serta mainan yang bisa dirakit. Ingatan yang kuat menjadi pondasi untuk anak dalam menyelesaikan masalah dalam hidupnya di kemudian hari. Begitu pula dengan permainan yang melibatkan kemampuan untuk berperan sebagai orang lain, ini melatih kemampuan berbahasa anak sekaligus menambah kemampuannya dalam bersosialisasi.

Bagaimana anak-anak belajar lewat bermain?

  1. Anak-anak belajar dengan cara yang berbeda

Pada salah satu ceramah di ajang TedX, Professor Doris Fromberg, Direktur Early Childhood Teacher Education di Hofstra University-Amerika Serikat menjelaskan bahwa anak-anak memiliki cara yang berbeda untuk belajar dibandingkan orang dewasa. Mereka belajar dengan cara membandingkan pengalaman fisik, berinteraksi, dan dari apa yang mereka rasakan dalam diri. Ini yang melatih logika dan kreatifitas.

  1. Dengan bermain, anak-anak beraktifitas sekaligus menciptakan imajinasi mereka sendiri

Peneliti Elena Bodrova, Carrie Germeroth, dan Deborah J. Leong dari University of Denver menemukan bahwa anak-anak belajar mengatur emosi mereka sebelum bermain. Contohnya: jika seorang anak berpura-pura menjadi karakter dalam film kartun favoritnya (misalnya menjadi Olaf dalam film Frozen), maka mereka akan berkelakuan seperti karakter tersebut alias imajinasi mereka ikut bermain menjadi Olaf–karakter boneka salju yang bisa mencair dan membutuhkan kehangatan. Hal ini membantu anak-anak membangun kemampuan berimajinasi. 

Ini juga ditegaskan oleh psikolog Edward Fisher yang menganalisa 46 penelitian mengenai manfaat bermain bagi perkembangan kognitif. Bermain secara sosio dramatic ternyata meningkatkan kemampuan berbahasa dan sosial sang anak. Peneliti menemukan bahwa anak-anak yang senang bermain peran juga lebih ekspresif dalam mengungkapkan perasaan mereka.

2. Dalam lingkup sekolah, bermain bisa membantu belajar

Dr. Angeline S. Lillard, penulis buku Montessori: The Science behind the Genius, menceritakan bagaimana Maria Montessori mendukung guru untuk mengajak muridnya bermain. Permainan bisa dibuat dalam struktur tetapi murid-murid merasa bebas mengekspresikan dirinya. Dalam hal ini, tentu peran guru menjadi sangat penting.

3. Bermain melatih anak memecahkan masalah

Ada dua masalah dalam hidup yang bisa diselesaikan lewat belajar dengan bermain, masalah sederhana yang membutuhkan satu solusi dan masalah kompleks yang membutuhkan beberapa solusi. Pondasi untuk hal ini bisa diajarkan dengan cara menyenangkan melalui permainan. 

Lalu langkah-langkah seperti apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengasah kecerdasan anak lewat permainan? Pilih permainan yang menantang otak, sebab otak anak-anak seperti spons yang bisa menyerap banyak hal. 

Ajak main puzzle atau scrabble bersama. Bermain Lego juga ikut mengasah kemampuan dan kreatifitas. Anak akan penasaran dengan bentuk Lego yang bisa dibongkar dan dipasang kembali. Biarkan anak mengkonstruksi apa pun imajinasinya lewat Lego karena ini meningkatkan kecerdasan kognitifnya. Namun, perhatikan pula usia anak. Ketika masih bayi, mereka mengeksplorasi objek dengan panca indera mereka. Bayi cenderung tertarik pada bunyi-bunyian dan benda-benda yang bergerak cepat atau memiliki warna menarik. Pada masa batita, anak-anak mulai tertarik pada permainan seperti masak-masakan, boneka, dan mobil-mobilan. Sedangkan pada masa balita, ketertarikan pada permainan pun mulai meningkat pada hal-hal yang lebih rumit seperti bermain peran atau menjelajah tempat lain di luar rumah.

Permainan fisik juga membuat anak cerdas. Penelitian dari University of Illinois mengungkapkan bahwa anak-anak yang sehat jasmani memiliki prestasi akademis yang baik. Kegiatan fisik perlu ada karena anak butuh untuk melatih koordinasi fisik dan otaknya sedari dini. Koordinasi mata-tangan atau mata-kaki, seperti: menggambar, menulis, manipulasi objek dengan melakukan permainan sulap, mencari jejak secara visual dengan bermain tebak gambar, melempar-menangkap-menendang bola atau benda. Juga kemampuan motorik kasar seperti gerak tubuh ketika berjalan, melompat, berbaris, berlari, berjingkat, berguling, merayap, dan merangkak. Ini diiringi juga dengan menekuk, meraih, bergiliran, memutar, meregangkan tubuh, jongkok, duduk, berdiri dan bergoyang. Manajemen tubuh dan kontrol seperti menunjukkan kepekaan tubuh akan tempat, keseimbangan, kemampuan untuk memulai, berhenti, dan mengubah petunjuk.

Jelaslah bahwa dengan bermain, anak semakin mengeksplorasi diri dan lingkungannya. Permainan yang mengasah kecerdasan, ketangkasan dan kemampuan bersosialisasi perlu dibawakan oleh orang tua. Tidak perlu memaksakan anak untuk mencapai prestasi akademik yang belum saatnya. Jika orang tua kreatif, melalui permainan sehari-hari pun mampu memberi pondasi yang kuat bagi anak untuk masuk dunia sekolah nanti.

Lantas apa tandanya jika anak cerdas? 

“Indikasi IQ yang bagus adalah ketika seorang anak punya rasa penasaran, senang bermain peran, belajar, dan bahagia,” ungkap  Stephen J. Schoenthaler, PhD, profesor nutrisi dan perilaku di California State University. Lebih jauh lagi, Frances P. Glascoe, PhD, profesor pediatric di Vanderbilt University mengungkapkan bahwa anak yang tumbuh besar dalam keluarga yang dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat, mendengarkan dan membaca, umumnya akan menjadi cerdas di kemudian hari. Minat dan cara belajar setiap anak itu unik. Maka dari itu, untuk mencetak anak cerdas lewat permainan, jangan lupakan keterlibatan orang tua serta jauhkan anak dari gadget!

Pengetahuan apa pun yang dicapai lewat bermain akan terasa menyenangkan, berbeda dengan tugas dan kewajiban. Bahkan kewajiban pun jika dibuat menyenangkan maka akan terasa ringan dan tidak menjadi beban. Ingatlah persepsi bermain ini: jika suatu hal dianggap melelahkan maka akan terasa sulit, tetapi jika menyenangkan maka akan terasa mudah.

Sumber:

How Do Children Learn Through Play?

https://www.whitbyschool.org/passionforlearning/how-do-children-learn-through-play

“5 Manfaat Bermain Sambil Belajar bagi Anak Usia Dini”, Klik untuk baca: https://edukasi.kompas.com/read/2020/02/04/17443741/5-manfaat-bermain-sambil-belajar-bagi-anak-usia-dini.

Playing with dolls helps kids of all genders learn empathy and practice social skills, study finds

https://www.insider.com/playing-with-dolls-teaches-children-empathy-and-social-skills-2020-10

Play Helps Make Kids Smarter

https://www.prleap.com/pr/278113/play-helps-make-kids-smarter

What Makes Kids Intelligent?

https://www.webmd.com/baby/features/what-makes-kids-intelligent#1

Benefits of Play

https://www.parentingscience.com/benefits-of-play.html

Spread the word. Share this post!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *